Posted in

Harga Minyak Dunia Hari Ini 9 Maret Tembus US$ 108,77

Ilustrasi

SYDNEY – Harga minyak dunia melonjak memicu kekhawatiran kenaikan biaya hidup dan potensi pengetatan suku bunga secara global. Kondisi tersebut juga mendorong permintaan terhadap dolar AS karena investor mencari aset yang lebih likuid.

Harga minyak Brent melonjak 17% menjadi US$ 108,77 per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar sejak awal pandemi pada 2020 dan terjadi setelah harga Brent naik 28% pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah AS naik 18% menjadi US$ 107,56 per barel, yang berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar dalam waktu cepat.

Di tengah ketegangan geopolitik, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Penunjukan ini menandakan kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran, sekitar satu pekan setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Langkah tersebut diperkirakan tidak akan disambut baik oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyatakan putra Ali Khamenei itu sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.

Dengan belum adanya tanda-tanda meredanya konflik di Timur Tengah dan kapal tanker masih enggan melintasi Selat Hormuz, investor memperkirakan biaya energi akan tetap tinggi dalam waktu yang cukup lama.

Kepala ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, mengatakan ekonomi global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Menurut dia, skenario jangka pendek menunjukkan harga minyak berpotensi melonjak mendekati US$ 120 per barel sebelum kemudian mereda apabila konflik mulai turun. Namun tanpa penyelesaian politik yang jelas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan di kisaran US$ 80 per barel hingga pertengahan tahun.

Kasman menilai kondisi tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6% secara tahunan pada paruh pertama tahun ini serta mendorong inflasi konsumen naik sekitar 1%.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik yang lebih luas dan berkepanjangan berpotensi mendorong harga minyak melampaui US$ 120 per barel dan meningkatkan risiko resesi global.

Sentimen negatif tersebut turut menekan pasar saham di kawasan Asia. Indeks Nikkei Jepang turun 6,2% setelah pekan sebelumnya melemah 5,5%. Pasar saham Korea Selatan juga terkoreksi 7,3% setelah sebelumnya telah kehilangan lebih dari 10% sepanjang pekan lalu.

Tekanan juga terlihat di pasar saham Amerika Serikat. Kontrak berjangka S&P 500 turun 1,8%, sementara kontrak berjangka Nasdaq melemah 2,1%. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun sekitar 2,5%.

Sumber: Beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *